Ajaran Tauhid

Keesaan Tuhan dalam Islam

Saat membicarakan tentang keimanan atapun ajaran Islam, maka satu hal paling mendasar adalah mengenai tauhid, atau pengesaan Tuhan. Dan dalam Islam dikenal dengan istilah tauhid, yang menjabarkan tentang keimanan kepada Tuhan yang Satu, Tuhan yang Esa, tiada sekutu apapun bagi-Nya.

Tauhid sendiri adalah Bahasa Arab yang berarti: “unifikasi” atau “kesatuan”. Namun, tauhid memiliki makna yang cukup kompleks, dengan berbagai pendalaman makna dalam Islam.

Umat muslim percaya, di atas segala sesuatu, Allah, yaitu Tuhan adalah satu-satunya, tidak memiliki sekutu atau partner dalam ‘ke-Tuhan-Nya’.

Oleh para ulama, tauhid itu sendiri dibagi menjadi 3 kategori. Ketiga kategori ini melengkapi satu sama lainnya, namun akan membantu kita memahami dan memurnikan keimanan dan pemujaan kita kepada Tuhan.

Tauhid Rububiyah (Ketuhanan yang Esa)

Meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta. Bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah. Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dan sebagainya.

Intinya, tauhid rububiyah maknanya adalah mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kepemilikan dan pengurusan segala sesuatu.

Allah tidak butuh bantuan atau petunjuk dari selain-Nya dalam penguasaan terhadap ciptaan-Nya. Islam menolak segala prasangka bahwa Allah memiliki sekutu dalam berbagi tugas Ketuhanan.

[pull_quote_center]Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Q.S. 10 : 31)[/pull_quote_center]

Tauhid Uluhiyah

Karena hanya Allah saja sendirian yang menciptakan dan mengatur alam beserta isinya, maka otomatis hanya Dia saja pula yang berhak disembah dan tujuan manusia beribadah.

Makanya tauhid uluhiyah, disebut juga tauhid ibadah jika penisbatannya kepada makhluk (hamba).

Islam mengajarkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah SWT. Allah sajalah tempat kita memuja, memohon, mengharap dan meminta pertolongan.

Namun seringkali, manusia tidak menyadari bahwa mereka terkadang tergelincir dari tauhid uluhiyah, saat mereka meminta bantuan kepada kekuatan-kekuatan selain Allah, atau mengambil sumpah dengan nama selain Allah. Tergelincir ke dalam sirik, dalam Islam merupakan hal yang amat berbahaya bagi keimanan seseorang.

Maka dari itu, 5 kali dalam sehari, seorang muslim selalu diingat tentang tauhid uluhiyah ini dalam sholat. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in – hanya kepada-Mu (Allah) kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (Q.S. 1 : 5)

Lebih lanjut Al-Qur’an mengatakan:

[pull_quote_center]Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadat, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri [kepada Allah]”. (Q.S. 6 : 162 – 163)[/pull_quote_center]

[pull_quote_center]Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun dan tidak [pula] memberi mudharat kepada kamu?” (Q.S. 21 : 66)[/pull_quote_center]

Al-Qur’an secara spesifik menyindir mereka yang mengaku beriman kepada Allah, tapi mereka mencari pertolongan melalui perantara-perantara (syafaat). Allah menegaskan bahwa Ia dekat, dan tidak perlu ada perantara untuk memohon kepada Allah.

[pull_quote_center]Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [jawablah], bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi [segala perintah] Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2 : 186)[/pull_quote_center]

[pull_quote_center]Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih [dari syirik]. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah [berkata]: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. 39 : 3)[/pull_quote_center]

Tauhid Asma’ wa Shifat

Al-Qur’an memberi gambaran dan kodrat Allah, dan seringkali dalam bentuk nama dan sifat yang diberikan oleh-Nya sendiri. Yang Maha Melihat, Yang Maha Agung, Yang Maha Besar dan sebagainya. Semua nama dan sifat itu, harus diterima dengan apa adanya.

Allah sungguh berbeda dari semua makhluk atau ciptaan-nya. Sebagai manusia, kita memang bisa memahami atau memiliki kesamaan sifat dengan Allah, namun Allah memiliki segala sifat tersebut dengan sesempurna-sempurnanya sifat, dalam sepenuh-penuhnya makna serta utuh tanpa cacat sedikitpun jua.

Qur’an mengatakan:
[pull_quote_center]Hanya milik Allah asma-ul husna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam [menyebut] nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 7 : 180)[/pull_quote_center]

Jadi, yang dimaksud dengan tauhid Aasma’ wa Shifat, adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang menjadi milik-Nya, dengan sepenuh-penuhnya keyakinan dan keimanan.

Memahami tauhid, adalah kunci dalam memahami Islam serta dasar atau pondasi keimanan dalam Islam. Mengambil sekutu bagi Allah, adalah hal yang tidak dapat diampuni dalam Islam.

[pull_quote_center]Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. 4 : 48)[/pull_quote_center]

Salam.

loading...
BAGIKAN