Mah, Kalau yang Ini sih Mahal Nggak Mah?

Seperti ibu-ibu pada umumnya, aku juga senang sekali mengajak si buah hati berbelanja ke mall atau supermarket. Tapi hari ini ada sebuah hal ‘luar biasa’ yang aku dapatkan dari putri kecilku yang baru berumur 3 tahun.

Di sebuah pusat perbelanjaan, saat aku memilih barang-barang keperluan rumah, tiba-tiba anakku bertanya: “Mah, boleh nggak aku beli sesuatu, tapi pilih sendiri?”

“Ya, boleh, sok apa aja yang kamu mau”, jawabku singkat.

“Bener mah?”

“Bener”, lalu aku sedikit membungkuk dan setengah berbisik: “Iya, tapi inget ya, jangan ngambil yang mahal-mahal”.

“Asyik”, lalu ia berlari ke ujung lorong rak dimana ada boneka-boneka lucu yang terjejer rapi. Sejurus kemudian, ia telah kembali dengan membawa sebuah boneka beruang yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri.

“Mah, kalau ini mahal gak mah?” Aku lalu melihat label harganya dan menjawab: “Ya, ini mahal”.

Dengan agak kecewa, dia kembali ke tempat dimana ia mengambil boneka itu, aku pun melanjutkan mengambil beberapa dus susu formula putriku ke keranjang belanja.

Tidak lama kemudian, ia kembali setengah berlari menghampiri aku: “Kalau yang ini sih mah, mahal gak?” Sambil memeluk boneka lumba-lumba cukup besar.

Entah kenapa aku tidak segera menjawab pertanyaannya, aku malah menatap wajahnya. Wajah yang polos, wajah yang lucu menggemaskan, wajah yang setiap harinya puluhan kali aku ciumi.

Demi melihat aku tidak segera menjawabnya, ia kembali lagi ke tempat ia mengambil boneka itu. Aku mengikutinya dari belakang, lalu kulihat ia mengambil boneka yang jauh lebih kecil, sebuah bantal berbentuk kupu-kupu dengan hiasan bunga di tepi kanan atasnya.

Dengan wajah yang terlihat memendam kecewa namun tegar, ia berkata: “Mah, kayaknya yang ini gak mahal mah! Aku pilih yang ini aja ah!”

Demi tuhan, aku sangat terharu mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan! Sampai hampir berkaca-kaca mata ini. Kemudian, aku tanyakan mana boneka yang sebenarnya ia inginkan, lalu ia menunjuk boneka beruang yang ia ambil pertama kali tadi. Tanpa berkata apapun, aku mengambilnya, lalu kubuka tangannya dan kudekapkan boneka itu ke dadanya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku selalu memikirkan apa yang barusan terjadi. Luar biasa, hari ini anakku telah mengajarkan sesuatu yang amat berharga, bahwa tidak setiap keinginan mesti terjadi, bahwa tidak setiap kemauan bisa terlaksana.

Ya, meskipun pada akhirnya aku membelikan apa yang ia mau, tapi sebelumnya ia telah menunjukkan bahwa ia rela menahan kesenangan dan keinginannya, yang mana biasanya anak seusia itu akan mengamuk dan menangis sejadi-jadinya bila keinginannya tidak dituruti.

Anak sekecil itu mampu mengendalikan keinginannya. Sedangkan aku sendiri pun seringkali tidak mampu melakukannya.

Acapkali aku berangkat dari rumah untuk membeli keperluan dapur, malah pulang menenteng cangkir-cangkir kecil lucu yang kemudian aku sadari bahwa aku sama tidak membutuhkannya, hanya karena melihat tulisan besar di depan toko: sale off 70%!

Seringkali aku membelanjakan uang, untuk hal-hal yang sebenarnya tidak aku butuhkan, tapi lebih karena keinginan dan nafsu mata dan egoisme, karena rayuan ahli pemasaran yang memasang label “Special Edition!”

Aku tidak sedang berbicara tentang membatasi keinginan dan kemauan si buah hati. Bukankah apapun yang kita lakukan semua demi anak-anak tercinta?

Tapi, aku sedang mengajarkan kepada anak-anakku, bahwa bukan seberapa besar penghasilan yang kita punya, tapi lebih kepada untuk apa uang kita dibelanjakan. Aku sedang mengajarkan bahwa uang tidak jatuh dari langit, tapi butuh kerja keras, memeras otak dan keringat untuk mendapatkannya. Sangat tidak elok bila kita membelanjakan uang yang didapat dengan susah payah hanya untuk menuruti keinginan, bukan berdasar skala prioritas kebutuhan.

Dan anakku hari ini dengan sempurna menunjukkannya kepadaku. Ah…. terima kasih nak, hari ini kau telah mengajarkan bundamu untuk lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, demi masa depanmu, demi kebahagiaanmu kelak.

BAGIKAN