Malfungsi Smartphone di Tangan Mahasiswa

Dewasa ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat, terutama smartphone atau ponsel pintar. Setiap bulan, mesti ada tipe baru dan lebih mutakhir beredar di pasaran. Bahkan kita sampai dibuat bingung harus mengunakan yang mana, mau tahan air atau mau berkapasitas penyimpanan besar semua sudah ada.

Sebelum terlalu mendalam, baiknya dibahas dulu apa makna dari malfungsi. Malfungsi adalah kegagalan atau kesalahan yang menyebabkan suatu objek menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk jelasnya disertakan beberapa contoh.

Perlombaan smartphone yang terus bersaing menciptakan perlombaan di kalangan masyarakat umum terkhusus mahasiswa. Mereka berlomba untuk menjadi orang pertama yang memakai ponsel pintar paling update.

Contoh sederhananya sekarang, pabrikan ponsel pintar berusaha untuk semakin menipiskan body ponsel keluaran terbaru. Beda dengan kalangan mahasiswa, kantong mereka yang semakin menipis, mereka rela menjadikan diri sendiri sebagai budak teknologi. Namun ponsel keluaran terbaru malah digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bukan menunjang pendidikan dan kegiatan perkuliahan. Melainkan ajang pamer dan unjuk kekuatan ekonomi.

Siapa yang mengunakan S-6 kelasnya adalah penguasa, bagi yang berekonomi sederhana uang untuk membeli S-6 lebih baik untuk DP motor bebek.

Selain untuk ajang unjuk kekuatan ekonomi, smartphone juga banyak malfungsi sekarang. Contoh sederhana, paling banyak penggunaan ponsel yaitu untuk mengambil gambar atau selfie. Terbanyak selanjutnya adalah untuk mendengarkan musik, lainnya mereka memasang seluruh aplikasi messenger serta social media sampai RAM ponsel itu hampir meledak karena banyaknya aplikasi latar belakang yang berjalan.

Itu tadi yang dominan, paling baiknya untuk mengedit foto selfie atau juga main game online yang biasanya dimainkan oleh kalangan cowok.

Lihatlah playstore, beberapa permainan yang tersedia free for download. Tapi kita harus membayar nantinya untuk menikmati fitur-fitur yang sengaja tidak disertakan, dan ini masalah lain yang muncul.

Seperti Angry Birds, jika kita kesulitan untuk membuka satu level ada bantuan-bantuan bagi kita untuk menyelesaikannya dan harus dibeli. Positifnya, mereka yang cepat bosan akan segera meninggalkan permainan seperti itu. Negatifnya, mereka malah kecanduan dan semakin menggilai sehingga harus membayar. Membayarnya pun bukan seperti membeli mie instan di warung, tapi dengan cara online payment system dan membutuhkan kartu kredit.

Yang terparah, menggunakan ponsel untuk “jimat-aktif” saat ujian. Kita semua tahu, Google sekarang disalahgunakan. Ketika sebuah soal menjadi sial, malah meminta bantuan ke Google. Maknanya sekarang ada soal-soal sulit mereka mencarinya di google karena sebuah doktrin “kita bisa menemukan semuanya di internet” sehingga jika tak bisa menemukan jawaban dari soal-soal ujian, maka bantuan dari Google yang dicari bukannya berusaha mencari jawaban dengan kemampuan sendiri.

Lebih baik bertanya ke teman kalau begini, atau yang terbaik ketika betul-betul tak tahu jawaban dari sebuah soal jangan dijawab. Apalah arti nilai “A” dari usaha-usaha yang menghalalkan dosa? Jujur pasti akan membantu kita, dan akan dibalas oleh-Nya walau bukan dalam waktu tapi di waktu yang tepat.

Terlihat artikel ini seperti mengangkat tema untuk kampanye berhenti membeli ponsel pintar?

Sejujurnya tidak, lebih baik menggunakan yang ada saja. Janganlah terlalu berusaha membeli barang baru terus-terusan, berbagai artikel pun bermunculan dengan tema membandingkan bagaimana dulu sebelum dunia mengenal smartphone.

Terlebih bagi mahasiswa, pernah dosen berkata, jika mencari tugas usahakan jangan dari internet tapi langsung dari buku referensi. Beberapa hal di internet sudah berubah-ubah dari sumber asli karena tambahan pendapat pribadi.

Silahkan bagi pembaca, setuju atau tidak. Ini hanya artikel opini, bukan untuk menjatuhkan dan merendahkan suatu hal. Ini juga pendapat dan pengalaman pribadi, semoga ada manfaatnya.

BAGIKAN