Purun: Kekayaan Tersembunyi dari Bakumpai

ERUDISI.COM – Anda mungkin berpikir dapat menemukan peta atau lokasi harta karun di artikel ini begitu membaca judul di atas yang menyinggung tentang kekayaan tersembunyi. Nyatanya tidak,  di sini saya hanya akan menyuguhkan tulisan mengenai sebuah tanaman, dan ya pastinya tidak berbentuk peti harta karun.

Lalu di mana letak kekayaan yang tersembunyi itu?

Adalah tanaman purun, yang mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan sudah akrab dengan tanaman ini, yang merupakan tanaman yang banyak ditemukan di pedalaman Kalimantan. Tanah yang berawa-rawa membuat tanaman purun tumbuh dengan lebat di Kalimantan Selatan, khususnya di Kecamatan Bakumpai, Barito Kuala.

Tanaman ini dulunya adalah hama bagi para petani. Purun tumbuh di sekitar padi sehingga padi tidak bisa tumbuh dengan baik karena tertutup oleh tumbuhan ini. Tetapi kemudian masyarakat sekitar memiliki kreativitas dan inovasi sehingga hama ini kemudian bisa disulap menjadi kerajinan tangan.

Bakumpai Memiliki Kekayaan TersembunyiPurun dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan tikar sebagai alas duduk atau sekedar alas lantai atau berbagai macam keperluan lainnya. Namun seiring perkembangan zaman tikar purun pun mulai kehilangan peminatnya, karena model yang kurang menarik dan harga yang lumayan mahal, dibanding tikar-tikar buatan pabrik dengan corak, model dan motif yang lebih menarik serta harga yang lebih terjangkau.

Tikar purun menjadi tidak menarik lagi di lingkungannya sendiri, sehingga para pengrajin makin sedikit dan mereka kehilangan mata pencaharian karena permintaan yang terus menurun. Dengan kondisi seperti ini muncul lah ide-ide baru untuk mengembangkan kerajinan tangan berbahan dasar purun, bukan hanya dijadikan tikar tetapi juga berbagai macam produk lain yang bernilai ekonomis lebih tinggi.

 

Bakumpai Memiliki Kekayaan TersembunyiAkhirnya, purun yang semula hanya dibuat menjadi tikar, sekarang bisa dibuat berbagai kerajinan tangan lain seperti sandal, tas dan dompet seperti yang Anda lihat pada gambar di samping. Bagaimana? Tidak kalah cantik dengan tas buatan pabrik bukan?

Tapi sayangnya, pengetahuan serta penghargaan masyarakat terhadap produk ini masih sangat rendah. Kurangnya komunikasi antara pemerintah dan pengrajin juga menjadi faktor produk ini tidak dapat berkembang. Bahkan banyak para pengrajin tidak lagi berproduksi karena berbagai kendala.

Entah sampai kapan Bakumpai memiliki kekayaan yang tersembunyi. Semoga suatu saat nanti, ada yang menyadari bahwa betapa berharganya kerajinan ini untuk sebagai penunjang ekonomi warga sekitar, terutama mereka, para pemegang kebijakan.

Nino Artikel adalah Pria Jawa kelahiran Sumatera Selatan yang memiliki hobi membaca dan menulis. Minat serta tekat menjadi blogger profesional sudah dilalui dari tahun 2011. Selain seorang freelancer, sesuai dengan namanya, juga adalah seorang penulis artikel.