Benarkah Wiranto Dalang Peristiwa 1998?

Mungkin masih menjadi sebuah tanda tanya dalam benak kita masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1998 lalu. Banyak kejanggalan dalam kerusuhan yang terjadi secara bersamaan di beberapa kota besar dai Tanah Air. Apakah benar itu merupakan bentuk kemarahan rakyat yang sesungguhnya? Jika memang itu semua merupakan kemarahan rakyat mengapa semuanya terjadi hampir di waktu yang bersamaan?

Kita mengenal peristiwa Mei 1998 adalah peristiwa sejarah terbesar di negeri ini, dimana atas kejadian tersebut banyak sekali warga negara yang tewas, gedung-gedung tinggi yang hancur dan dibakar massa, serta pemerkosaan terhadap etnis China.

Sungguh sangat luar biasa dampak dari kerusuhan tersebut dimana banyak fasilitas yang rusak dan kita sebagai warga negara harus menggantinya. Kerugian negara akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai 3triliun rupiah.

Protes mahasiswa berawal saat mahasiswa UI mendatangi DPR/MPR untuk menyatakan penolakan terhadap pidato pertanggung jawaban Presiden Soeharto yang di sampaikan pada Sidang Umum MPR 5 Maret 1998. Mahasiswa menyerahkan agenda “Reformasi Nasional”.

Mahasiswa diterima oleh Fraksi ABRI. Aksi mahasiswa tidak dihiraukan oleh Soeharto dan 11 maret 1998 Harmoko sebagai Ketua DPR/MPR dalam SU MPR melantik Soeharto sebagai Presiden RI.

Peristiwa mei 1998

  • Pada tanggal 9 Mei 1998 Presiden Soeharto pergi Kairo Mesir untuk menghadiri KTT G-15.
  • Pada tanggal 12 Mei 1998 terjadi penembakan masal oleh aparat kepada mahasiswa Trisakti, dimana aparat bertindak brutal dan menembakan senapannya secara massal sampai ke depan kampus Trisakti. Akibat dari aksi aparat tersebut empat orang mahasiswa Trisakti tewas. Namun aparat tetap membantah menggunakan peluru tajam saat melakukan penembakan.
  • Pada tanggal 13 Mei 1998 Jakarta dan solo mencekam sekali dimana banyak terjadi aksi pembakaran dan pengrusakan pada pusat-pusat perbelanjaan seperti Yogya yang ada di klender dan di Solo di pusat kota tepatnya di Jalan Slamet Riyadi.Banyak orang yang memperkirakan bahwasannya pengrusakan yang terjadi tersebut disinyalir sudah direncanakan dengan matang, karena ada saksi yang melihat sebelum pengrusakan terjadi sejumlah orang berambut cepak beramai-ramai turun dari sebuah truk setelah pengrusakan selesai mereka kembali naik truk tersebut dan pergi. Pada saat penjarahan dan pengrusakan banyak sekali terjadi pemerkosaan terutama pada bangsa etnis China.Saat terjadi kerusuhan yang besar tersebut terjadi, Wiranto justru membawa sejumlah pimpinan ABRI untuk menghadiri upacara pemindahan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari Divisi I ke Divisi II Kostrad di Malang.
  • Pada tanggal 15 Mei 1998 Presiden Suharto lawatannya di Kairo dan kembali ke Indonesia serta mengatakan bersedia mengundurkan diri.
  • Pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Suharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden dan B.J Habibie sebagai wakilnya saat itu naik menggantikannya.

Apakah semua peristiwa tersebut merupakan spontanitas dari rakyat atas kemuakannya pada Presiden? Atau memang semua itu terjadi karena ada kepentingan politik untuk berkuasa?

Kemanakah TNI dan Polri saat kerusuhan itu berlangsung di Jakarta dan Solo?

Siapakah orang berambut cepak yang berhasil memprovokasi yang keluar dari truk tersebut?

Kenapa pemerintah dalam hal ini TNI tidak memberlakukan jam malam sebagai situasi darurat keamanan Ibu kota?

Mengapa Wiranto membawa banyak perwira tinggi ke Malang saat kerusuhan besar terjadi?

Apakah kerusuhan yang terjadi di Ibu kota & beberapa kota besar lainnya merupakan “Pembiaran Pemerintah?

Kita mengenal dua tokoh yaitu Letjend Prabowo Subianto yang menjabat sebagai Pangkostrad dan Jendral Wiranto yang menjabat sebagai Pangab pada saat itu. Mereka berdua digadang-gadang sebagai orang yang bertanggung jawab atas kerusuhan Mei 1998.

Kita ungkap beberapa fakta terkait peristiwa Mei 1998

Jika kerusuhan yang terjadi adalah spontanitas, maka kerusuhan yang tidak akan menjalar ke daerah-daerah, tapi faktanya kejadian terjadi secara bersamaan

Jadi jelas bahwa kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya merupakan PEMBIARAN serta TERENCANA.

Fakta lain keterlibatan Polri pemicu kerusuhan, Dan Puspom ABRI Syamsu Djalal, tidak berhasil meminta Kapolri Dibyo Widodo untuk menyerahkan anggotanya yang dicurigai terlibat penembakan mahasiswa Trisakti. Lebih 2 minggu setelah insiden berlalu 29 Mei, barulah Wiranto memanggil Kapolri dan memerintahkan agar menyerahkan anggotanya, yang aneh, Kapolri menyerahkan anggota Polri ke Polda, bukan ke POM ABRI, karena saat itu Polri masih bagian dari ABRI. Dan yang paling aneh, senjata Polri baru di serahkan sebagai barang bukti nanti 19 Juni 1998, 1 bulan lebih setelah peristiwa.

Sebelum Wiranto berangkat ke Malang membawa petinggi-petinggi ABRI hanya sekedar upacara serah terima dari Dev. I ke Dev. II. Malamnya tanggal 13 Mei 1998, Wiranto memimpin rapat Garnisun menerima laporan situasi dan kondisi ibu kota pasca kerusuhan.

Dari rapat dengan Garnisun seharusnya Wiranto membatalkan keberangkatannya ke Malang bersama petinggi-petinggi ABRI. Seharusnya Wiranto yang saat itu menjadi Pangab harus bertanggung jawab penuh terhadap segala situasi keamanan ibu kota dan negara. Upacara serah terima PPRC adalah hal rutin di TNI, tidak perlu Wiranto bertindak sebagai Komandan Upacara terlebih Ibu kota dalam keadaan genting.

Ada yang mengatakan bahwasanya Prabowo menelpon Wiranto agar segera kembali ke ibukota untuk memperbaiki situasi yang genting menjadi kondusif. Namun Wiranto membantahnya dan mengatakan tidak ada telepon masuk dari siapapun.

Namun saat ini faktanya adalah Wiranto melakukan pembiaran yang terjadi di Ibu Kota dan lebih mengutamakan datang menghadiri kegiatan upacara PPRC di Malang.

Fakta lain, Mabes ABRI perintahkan Pangdam Jaya membantu pengamanan Ibu kota, Pangdam Jaya minta bantuan pada Prabowo untuk mendatangkan tambahan pasukan dari kerawang, Cilodong, Malang & Makassar. Namun Wiranto tidak memberikan ijin. Sebagai Menhankam/Pangab seharusnya Wiranto mengambil alih Komando dan secara fisik wajib berada di lokasi kerusuhan.

Fakta lain keterlibatan Wiranto adalah pembentukan PAM SWAKARSA. Ini adalah trik Wiranto menangani protes rakyat dalam SI MPR. Pam Swakarsa yang dibentuk dari rakyat sipil berbasis Islam untuk melawan rakyat sipil, agar TNI cuci tangan dari konflik horizontal.

Kembali pada peristiwa 12 Mei 1998. Penembakan pada mahasiswa dan korban tewas 4 orang mahasiswa Trisakti dituduh Prabowo sebagai dalangnya. Fakta bahwa 14 Mei terjadi pertemuan di Makostrad dengan tokoh-tokoh masyarakat Adnan Buyung Nasution, Fahmi Idris (mantan Ketua Golkar), Bambang Widjajanto (sekarang Pimpinan KPK) atas inisiatif Setiawan Djodi. Ke 4 tokoh masyarakat ini menanyakan keterlibatan Prabowo Subianto atas penembakan mahasiswa Trisakti. Prabowo Subianto menjawab: Demi Allah saya tidak terlibat.

Kita sudah mengetahui sejarah panjang peristiwa mei 1998, dan sekarang saatnyalah masyarakat menilai siapakah aktor intelektual dalam peristiwa mei 1998 tersebut. Reformasi merupakan sebuah sejarah kelam bangsa Indonesia saat itu.

17 tahun sudah reformasi berlalu semoga ini menjadi peristiwa sejarah kelam terakhir yang terjadi di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here