Idul Adha: Hari Raya Pengorbanan

Makna pengurbanan yang sesungguhnya di Hari Raya Idul Adha

Di akhir pelaksanaan ibadah haji, umat muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha, yang di tahun 2015 ini, jatuh pada hari ini, tanggal 24 September 2015.

Apa yang diperingati saat Idul Adha?

Selama menjalankan ibadah haji, umat muslim mengenang dan memperingati ujian dan kemenangan yang dialami oleh Nabi Ibrahim, as. Al-Qur’an disebutkan:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, Lagi yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (Q.S. An-Nahl: 120-121)

Salah satu ujian terberat atas Nabi Ibrahim adalah perintah untuk membunuh putranya sendiri, yaitu Ismail as. Demi menerima perintah ini, Ibrahim dengan kepatuhan dan penuh keyakinan memutuskan untuk melaksanakannya, betapa pun beliau sangat mencintai putranya. Beliau telah membuktikan bahwa kecintaan kepada Allah melebihi kecintaannya terhadap apapun selain-Nya.

Namun, sesaat sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih putranya, datanglah kabar dari Allah bahwa pengorbanannya telah ‘diterima’, meski belum dilaksanakan, demi melihat begitu tulus ikhlas Nabi Ibrahim menerima ujian tersebut.

Mengapa umat muslim memotong kurban di hari Idul Adha?

Selama perayaan Idul Adha, umat muslim mengenang ujian yang dialami Nabi Ibrahim dengan cara menyembelih hewan kurban seperti domba, sapi dan unta. Hal ini lah yang seringkali disalahpahami oleh orang-orang di luar Islam.

Allah memberi kekuatan kepada manusia untuk menguasai hewan-hewan serta membolehkan kita untuk memakan daging, namun HANYA ketika disebut nama Allah saat menyembelihnya.

Dengan cara itu lah umat muslim menyembelih hewan seperti dicontohkan oleh Nabi sejak dahulu kala. Dengan menyebut nama Allah dalam penyembelihan hewan, kita diingatkan bahwa ‘kehidupan’ adalah hal yang suci, yang hanya boleh direnggut dengan hak dan atas nama Allah.

Daging sembelihan hewan kurban di hari raya Idul Adha, biasanya diberikan kepada orang-orang di sekitar, terutama kepada kaum papa dan fakir miskin.

Hal ini melambangkan (sekaligus) mengajarkan kepada manusia untuk mau memberikan (mengurbankan) hal-hal yang disukai, dicintai, demi menuruti perintah Allah SWT. Makna lainnya dari penyembelihan hewan kurban adalah menumbuhkan kepedulian sosial untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Manusia mesti menyadari bahwa segala kenikmatan adalah dari dan milik Allah, karenanya manusia harus mau berbagi dengan sesamanya.

Adalah hal yang amat penting untuk dipahami bahwa penyembelihan hewan itu sendiri, sama sekali bukanlah sebuah penebusan dosa, atau menggunakan darah untuk membasuh dosa-dosa manusia, seperti yang salah kaprah dipahami oleh orang di luar Islam.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S Al-Hajj: 37)

Jadi jelas, bahwa penyembelihan hewan kurban hanya sebagai simbol dari kesediaan untuk mengurbankan sesuatu demi menaati perintah Allah.

Seorang muslim sejati, yang berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, pastinya akan berusaha untuk senantiasa menaati segala perintah Allah. Kekuatan hati, keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, itulah yang dinilai oleh Tuhan sebagai pengorbanan terbesar manusia dan akan mendapat balasan dari-Nya, bukan daging dan darah hewan kurban yang diangkat sebagai kebaikan di sisi Allah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here