Joget, Makan, Tidur: Sebuah Filosofi

Beberapa orang yang melihat cover Facebook saya ngomong gini:

Life should be relax, saya setuju sama ini. Emang hidup itu harus santai, jangan ngoyo, gak usah memaksa, ojo nesu-nesu.

Lalu?

“Tapi tulisan di bawahnya itu, “dancing, eating, sleeping” alias joget, makan, tidur. Wahhh… kalau yang ini saya tidak setuju, klo hidup kayak gitu ya gak bisa, leha-leha, tanpa berbuat sesuatu!”

Saya agak bingung menjawabnya, karena mungkin cuma saya yang ngerti makna di balik kalimat itu. Joget, makan, tidur memang sudah lama menjadi filosofi dalam hidup saya.

DANCING (joget)

Di tempat saya, orang suka ngomong begini: “coba saja, kita liat jogetannya” atau “aku pengen tahu dulu jogetannya seperti apa, baru kita bertindak” atau “sabar, kita kan belum tahu jogetannya”.

Yang semua artinya adalah: kerja, tingkah polah, cara membawa diri, bersikap dan bertingkah laku. Begitu pula kata itu saya artikan bagi diri saya sendiri.

Joget saya maknai sebagai: bekerja, berkarya, mewujudkan sesuatu menjadi nyata, berbuat sesuatu yang manfaat untuk orang lain, mengikuti alunan musik dunia, hiruk pikuk kehidupan.

Hidup bagi saya, haruslah berjoget, tidak diam, tidak berpangku tangan, menunggu nasib baik, hanya menunggu sampai menemukan lagu yang kita inginkan saja.

Tapi sebaliknya, saya harus bisa joget dalam segala kondisi, mengikuti irama terus-menerus meski jika musiknya sangat tidak saya sukai.

Jika tidak, maka saya akan tergilas, tertinggal, sementara musik dan lagu akan terus berputar dan berganti. Jadi… ayo, putar musik: Joget Maaaangggg…….!!

EATING (makan)

Orang hidup memang butuh makan, betul? Bagaimana kita bisa berkarya dan bekerja, jika kita tidak makan?

Inilah saatnya kita mengisi kembali energi yang hilang setelah kita ‘joget’ tadi. Makan di sini juga saya maknai tidak sebatas makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani, makanan psikis, makanan untuk akal dan jiwa.

Inilah saatnya kita menambah pengetahuan, memperdalam pemahaman tentang sesuatu. Inilah saatnya, kita mencari informasi baru, lalu mengolahnya menjadi energi yang luar bisa, agar ke depan bisa joget lebih baik lagi. Inilah saatnya, kita menjadi haus akan ilmu, memperkaya diri dengan keahlian baru, pengalaman baru, keterampilan baru. Belajar dan belajar terus, adalah inti dari bekal kita untuk berkarya.

So… makanlah, setelah anda lelah berjoget!

SLEEPING (tidur)

Saatnya kita tidur, saatnya kita beristirahat. Melepaskan segala penat setelah ‘joget’ dan ‘makan’.

Istirahat! Tinggalkan sejenak hiruk pikuk dunia dengan segala problematikanya. Buanglah sesaat segala urusan keduniawian. Inilah saatnya kita merenung, berkontemplasi. Saatnya kita harus sendiri. Saatnya kita mendekatkan kepada kekuatan yang jauh lebih besar dari kekuatan kita: Tuhan semesta alam.

Biarkan jiwa kita mengembara, mencari bentuk-bentuk abstrak dalam kehidupan. Tidurlah… karena sebentar lagi, kita harus siap untuk kembali berjoget.

Itulah makna di balik tiga kata yang selama ini saya pegang dalam hati.

Hidup, bagi saya harus diisi dengan tiga hal: berkarya, belajar dan terus belajar, dan sekali waktu mengasingkan diri, berdialog dan mengadu kepada Sang Penguasa.

Ketiganya tidak bisa dipisahkan!

Apa gunanya belajar, jika tidak berbuah karya? Bekerja dan berkarya tanpa mau terus belajar, maka karya kita tidak akan bertambah nilainya. Dan jika kita tidak mau sejenak menghadapkan diri ke hadirat Tuhan Yang Empunya Segala, niscaya jiwa menjadi kering, kosong, tidak peka, dan akhirnya berujung kekacauan dalam hidup.

Kesimpulannya: Joget, Makan, Tidur!

Salam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here