Ketika Masyarakat Meminta Jokowi Menjaga Jarak dengan PDIP

Menurut survey diskusi dan kajuan opinin (Kedai Kopi) menyatakan, sebanyak 34,4 persen responden menginginkan Jokowi sebaiknya mulai menjaga jarak dengan PDIP. Mengapa hal demikan bisa terjadi?

Sejak PDIP mengusung Jokowi menjadi Capres pada pemilu 2014 kemarin dan lalu memenangkannya, PDIP semakin bersikap arogan layaknya seorang penguasa sesungguhnya. Mulai dari tata cara dan sikapnya terhadap presiden seakan-akan ialah yang bisa membuat Jokowi seperti sekarang. Padahal tidak! Semua itu adalah karena rakyat Indonesia bukan karena PDIP.

Ketika kongres PDIP kemarin berlangsung Megawati seolah-olah dalah pemimpin negara yang sesungguhnya dimana Presiden Jokowi tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato sama sekali. Dengan sikap arogannya Megawati mengucapkan bahwasannya Presiden saja adalah anak buahnya.

Sungguh miris sekali melihat kelakuan dan sikap PDIP kepada Jokowi. Maka dari itu seluruh elemen dari masyarakat bawah sampai atas ingin sekali Jokowi keluar dari PDIP. PDIP merupakan penghambat laju pemerintahan dan kebijakan yang diprogramkan oleh Jokowi. Semakin di dekatkan maka semakin aroganlah sikap PDIP, bukannya bekerja untuk rakyat melainkan untuk kepentingan golongan saja.

Pak Jokowi yang terkenal dengan pribadi yang sederhana dan ramah kini justru berubah. Semua disebabkan oleh kelompok dan individu individu tertentu untuk memanfaatkannya. Untuk itu ada baiknya bahwasannya Pak Jokowi sesegera mungkin menjaga jarak dengan PDIP kalau bisa jangan saja menjaga jarak melainkan keluar langsung dan mendirikan partai baru.

Rakyat Indonesia ada dibelakangmu Pak Jokowi. Laksanakanlah program kerjamu dengan baik tanpa intervensi dari partai politik. Tepatilah janjimu untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here