Terhindar dari Kesulitan dengan Memberi Manfaat

Sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi siapapun dalam hidup ini selalu akan menghadapi bermacam-macam kesulitan.Tidak ada satu orang di dunia ini yang tidak pernah merasakan sulitnya didera berbagai macam permasalahan dan problematika kehidupan. Hidup memang tidak mudah. Hidup memang akan terus-menerus berlari dari satu masalah ke masalah yang lain.

Namun, sesulit apapun keadaan dan problem kehidupan yang sedang kita jalani, yakin bahwa selalu ada jalan keluarnya. “Di dalam kesulitan, sesungguhnya selalu ada yang namanya kemudahan.”

Sungguh pun demikian, jika kita merasa himpitan masalah tidak pernah habis. Selalu datang satu yang baru sebelum selesai satu yang lama. Seakan semua jalan dan pintu tertutup untuk kita, terutama yang menyangkut masalah hubungan dengan sesama dan sumber penghidupan, sudah sepantasnya mari kita sama-sama bertanya kepada diri masing-masing: apa yang salah dalam sikap kita?

Sebuah pertanyaan yang paling bagus kita tanyakan ke diri masing-masing adalah: Sudahkah saya memberi manfaat untuk orang lain? Ini adalah pertanyaan yang selalu saya ajukan kepada diri sendiri, ketika saya menghadapi kesulitan dalam hidup. Ketika saya menemui masalah dengan pekerjaan.

Di saat saya mendapatkan kekecewaan karena hasil yang diharapkan tidak sesuai harapan.

  • Sudahkah saya memberi manfaat untuk perusahaan ini?
  • Sudahkah saya memberi manfaat untuk lingkungan saya?
  • Sudahkah saya memberi manfaat untuk keluarga saya?
  • Sudahkah saya memberi manfaat untuk negara saya?

Kunci dalam kehidupan ini adalah kita harus mampu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain.

Dengan cara demikian, maka akan dengan sendirinya hukum alam akan bekerja. Yaitu, ketika kita didera masalah dan menemui jalan buntu, orang lain akan tampil sebagai pemecah kebuntuan, kenapa?

Karena sebelumnya kita telah memberi manfaat untuk orang tersebut. Yuk, mari kita telaah lebih jauh. Ingat-ingatlah ketika kita merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sesuatu dan itu membuat keadaan kita menjadi sulit, sudahkah kita memberi manfaat yang sepadan kepada orang lain?

Rumus kehidupan yang selalu saya pegang selama ini adalah, apa yang akan kita dapatkan hanyalah sebatas seberapa besar kita memberi manfaat kepada orang lain.Lebih jauh dalam masalah sumber penghidupan, rejeki yang kita dapatkan hanyalah sebesar manfaat yang kita berikan kepada orang lain, tidak lebih! Semakin besar manfaat yang kita berikan, semakin besar pula yang akan kita dapatkan.

Camkanlah hal ini dalam hati masing-masing. Meskipun sama-sama berupa besi, seonggok besi tua hanya seharga beberapa ribu rupiah saja per kilogram, sedangkan sebuah pegas untuk jam tangan, mungkin akan seharga puluhan juta rupiah per kilogramnya.

Jadi, jelas yang membuat sesuatu bernilai adalah bukan materinya, tapi manfaatnya secara luas. Begitu juga dengan diri kita sendiri, bukan kitanya yang akan dihargai oleh orang lain, tapi manfaat kita lah yang akan mendapatkan penghargaan yang sepantasnya.

Jika kita selalu membiasakan diri untuk selalu bertanya: apa dan bagaimana saya bisa bermanfaat lebih untuk orang lain dalam segala hal, saya yakin hidup kita akan menjadi mudah, lancar, sukses dan bahagia. Karena, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, ketika kita mampu memberikan manfaat lebih kepada orang lain sebanyak-banyaknya.Ketika bekerja di perusahaan baru, tanyakan apa manfaat saya untuk perusahaan?

Ketika kita masuk ke lingkungan baru, tanyakan juga apa manfaat saya untuk lingkungan ini?

Ketika, kita ikut dalam sebuah organisasi, apa manfaatnya saya untuk organisasi ini?

Semakin banyak manfaat diri, semakin “mahal” harga diri kita. Semakin mudahlah hidup, semakin terbukalah jalan mencapai kebahagiaan.

Untuk itu, yuk mari. Biasakan diri sejak sekarang: apa yang bisa saya berikan manfaat untuk orang lain?

Dan menutup tulisan ini, saya teringat pada waktu kecil dulu, guru ngaji saya pernah mengatakan – katanya sebuah hadist dari Nabi – yang berbunyi:

“Sebaik-baiknya manusia, adalah yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lain”

Bertahun-tahun kemudian, saya baru menyadari akan kebenaran sebuah kalimat yang sederhana ini. Yaitu bahwa, apa yang akan kita terima hanya sebatas apa yang kita beri. Sukses buat kita semua.

Salam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here