3 Jenis Aksi Kriminalitas Saat Mudik Lebaran

Indonesia memiliki budaya yang khas dan tidak dimiliki oleh negara lain, yaitu mudik. Mudik adalah kegiatan tahunan yang dilakukan oleh mereka yang tinggal di kota untuk mengunjungi saudaranya di kampung halaman.

Namun, ada saja oknum-oknum yang memanfaatkan momen tahunan ini untuk mendapatkan keuntungan dengan cara melakukan tindakan kriminalitas. Oleh karena itu di bawah ini adalah tiga tindakan kriminal yang sering muncul saat mudik lebaran dan harus anda waspadai.

1. Hipnotis

Hipnotis bukanlah modus baru, namun ini masih sering saat lebaran. Hipnotis biasanya mengincar orang-orang yang mudik sendirian, khususnya kaum wanita, karena dianggap lemah oleh para pelaku kriminal. Oleh karena itu, usahakan untuk mudik bersama kawan minimal dua orang, agar perjalanan mudik lebih aman dan saling mengingatkan.

2. Membius korban

Bius bukan hanya dilakukan dengan menggunakan sapu tangan. Tetapi biasanya hal ini dilakukan dengan mencampurkan obat bius ke dalam makanan maupun minuman.

Jika anda ditawari makanan maupun minuman oleh orang yang belum anda kenal, baik di terminal maupun dalam bus saat perjalanan menuju ke kampung halaman, sebaiknya anda tidak menerimanya karena bisa saja minuman tersebut telah dicampur oleh obat bius. Sebaiknya anda membawa makanan dan minuman sebagai bekal perjalanan anda sendiri.

3. Penukaran uang palsu

Hari raya Idul Fitri merupakan ajang penyebaran uang palsu terbesar di Indonesia. karena saat itu uang beredar begitu cepat karena digunakan sebagai, angpao, THR, maupun sebagai hadiah pemberian kepada sanak saudara. Khususnya anda yang ingin menukarkan uang menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, atau ingin menukar uang asing ke rupiah.

Sebaiknya anda menukar di tempat-tempat resmi, baik yang diselenggarakan Bank Indonesia, atau penukaran valuta asing yang sudah benar-benar legal dan terpercaya.

Jangan percaya dengan penukaran yang terlampau jauh dari kurs rupiah yang sebenarnya. Karena biasanya para oknum yang menyebarkan uang palsu akan memberikan uang lebih banyak dan tidak wajar dari nilai tukar yang sebenarnya.