10 Pemikiran Keliru yang Harus Disingkirkan untuk Meraih Sukses

‘Satu-satunya tempat dimana impian Anda menjadi tidak mungkin, adalah di dalam pikiranmu sendiri.’ – Robert H. Schuller

Pernahkah Anda merasa takjub melihat beberapa orang sanggup mengatasi kesulitan luar biasa dalam hidupnya? Sementara, beberapa orang lain tetap ‘diam’, kalah, dan bergelut dengan kegagalan?

Merekalah orang-orang hebat, orang-orang yang tangguh, yang tahan banting, orang-orang yang tidak menyerah, lalu mereka selalu menemukan jalan keluar dari kesulitan apapun yang dihadapi.

Bagaimana dengan kita?

Apapun yang kita hadapi, kita selalu memiliki pilihan apakah kita menyerah atau terus melangkah, apakah kita diam atau terus berjalan di antara kesulitan dan rasa sakit.

Lalu apa yang membedakan antara mereka yang berhasil dan yang gagal? Tidak lain adalah pikiran kita sendiri. Orang yang tidak memiliki ketabahan dan ketangguhan melewati kesulitan, adalah karena pikirannya dipenuhi oleh pertentangan, rasa takut, pembenaran diri dan keragu-raguan.

Untungnya, kita dapat belajar untuk berpikir dalam cara yang membantu kita tetap setia pada impian dan tidak menyerah pada tantangan yang dihadapi.

Sekaranglah saatnya untuk berpikir lebih optimis, fokus untuk belajar dan berkembang, dan lebih mencari peluang dibandingkan melihat kesulitan. Sekaranglah waktunya untuk tidak memikirkan kegagalan, dan mulai berpikir dan hidup layaknya seorang pemenang.

Sekarang saatnya membuang pemikiran keliru dari benak kita!

Nah, di bawah ini beberapa pemikiran keliru yang harus Anda buang-buang jauh agar berhasil mengatasi kegagalan dan terus melangkah meraih mimpi.

1. ‘Saya sudah mengetahui semua yang saya perlu ketahui’

Biasanya orang seperti ini yang terus bergelut dengan kegagalan. Ketika kita menganggap kita telah mengetahui segala sesuatu yang perlu kita tahu, ini membuat kita sulit mengerti mengapa kita mengalami kegagalan.

Pemikiran yang lebih baik:
‘Semua orang selalu bisa belajar dari kegagalan. Jika sesuatu tidak bekerja baik buat saya, barangkali ada cara lain untuk mencapai sesuatu. Saya akan terus belajar setiap hari, setiap saat.’

[quote_box_center]’Jika pikiran Anda kosong, ia selalu siap untuk apapun, ia selalu terbuka untuk segalanya. Pada pemikiran seorang ‘pemula’, ada banyak begitu kemungkinan, sedangkan dalam pemikiran seorang ‘ahli’, kemungkinan itu hanya sedikit saja.’ – Shunryu Suzuki[/quote_box_center]

2. ‘Saya tidak butuh bantuan siapapun. Saya mampu melakukannya sendiri’

Jika kita tidak mau mencari atau menerima bantuan dari orang lain, maka sesungguhnya kita memilih cara yang sulit. Kita semua membutuhkan bantuan orang lain, apakah itu dukungan moral ataupun bantuan fisik maupun sumberdaya secara nyata. Tidak seorang pun mencapai puncak, tanpa bantuan orang lain!

Pemikiran yang lebih baik:
Oke, saya akan mencari dan menerima bantuan dari orang lain. Adalah jauh lebih jantan untuk meminta bantuan dibandingkan menutupi bahwa saya sedang menghadapi masalah. Menerima bantuan dari orang lain adalah langkah yang dibutuhkan untuk meraih hasil terbaik yang saya bisa.

3. ‘Saya harus selalu memegang kendali’

Jika ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam kehidupan, adalah perubahan itu sendiri. Ada begitu banyak hal yang nyatanya berada di luar kuasa dan kendali kita. Dan belajar menerima apa-apa yang tidak bisa kita rubah, adalah hal yang sangat penting dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup. Belajar menerima hal ini, membuat pikiran kita menjadi lebih damai.

Pemikiran yang lebih baik:
Saya adalah orang yang mampu beradaptasi, dan bisa berubah sesuai keadaan dan kondisi yang terjadi. Saya akan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali saya, serta menerima apa-apa yang saya tidak kuasa merubahnya.

4. ‘Saya tidak cukup pandai, tidak cukup tua, tidak cukup kaya, tidak cukup ….

Tak terhitung banyaknya alasan mengapa Anda tidak siap atau tidak bisa meraih impian Anda. Kenali alasan dan keyakinan yang membatasi diri Anda, lalu menyadari mana ‘kebohongan’ yang Anda katakan pada diri sendiri. Jujur pada diri sendiri adalah hal amat penting dalam hal ini.

Pemikiran yang lebih baik:
Saya mungkin tidak berada dalam keadaan ideal, namun saya akan menggunakan semua yang saya miliki dan menjadi terbaik yang saya mampu. Saya akan berhenti membuat alasan dan mengikuti keyakinan yang tidak membantu saya mencapai tujuan.

5. ‘Jika saya gagal, maka memang berarti saya telah gagal’

Ada perbedaan besar antara melakukan kesalahan dan gagal meraih tujuan, dengan memandang dan menganggap diri sendiri sebagai ‘orang yang gagal’.

Kita pasti mengalami kegagalan, tapi itu adalah salah satu proses meraih sukses. ‘Siapa diri kita’ tidaklah berubah dikarenakan kegagalan yang kita alami.

Pemikiran yang lebih baik:
Saya memang tidak menyukai kegagalan, namun itu adalah hal yang tak terelakkan, dan saya menemukan hikmah di dalamnya. Saat saya gagal, saya jadi belajar agar melakukan hal berbeda di waktu yang akan datang. Saya akan menggunakan kegagalan sebagai guru terbaik.

6. ‘Saya tidak akan pernah mampu melewati masalah ini’

Ini adalah pemikiran pesimis paling umum dialami banyak orang. Jika kita yakin sesuatu tidak akan ‘membaik’, maka kita tidak akan termotivasi untuk mengatasi masalahnya. Tidak ada masalah yang ‘tak terpecahkan’, kecuali kita membuatnya demikian.

Pemikiran yang lebih baik:
Tidak ada problem yang permanen. Saya mampu menghadapi apapun yang terjadi. Memang mungkin tidak mudah, tapi saya yakin setiap masalah akan berlalu seiring waktu.

7. ‘Keadaan tidak memungkinkan saya melakukannya’

Tidak jarang kita menyalahkan keadaan atas kegagalan kita. Kita menyalahkan pekerjaan atau atasan kita mengapa karir kita tidak berkembang.

Kita bahkan sering menyalahkan orang-orang, lingkungan, komunitas di sekeliling kita atas masalah yang kita hadapi. Ini adalah sikap melempar tanggung jawab dan tidak meyakini kekuatan diri.

Pemikiran yang lebih baik:
Saya adalah arsitek dari hidup saya sendiri. Keadaan dan lingkungan saya, sama sekali tidak membentuk ‘siapa saya’. Saya akan melakukan langkah yang diperlukan dan merubah keadaan seperti yang saya inginkan. Tidak akan pernah saya ijinkan lagi, dunia luar mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saya.

8. ‘Saya bukanlah orang yang tepat melakukan hal itu’

Mudah sekali kita mendasarkan kemampuan kita melakukan sesuatu di masa depan, dengan apa yang kita lakukan di masa lampau.

Jika kita pernah gagal dalam satu hal lagi dan lagi, maka kita cenderung menganggap bahwa kita benar-benar tidak cocok untuk melakukannya. Padahal nyatanya, belajar apapun membutuhkan praktik terus-menerus, dan dengan praktik yang cukup kita hampir selalu bisa melakukan apapun yang kita mau.

Pemikiran yang lebih baik:
Saya tidak akan menengok lagi kegagalan yang silam. Hanya karena saya belum berhasil meraihnya, bukan berarti saya tidak akan pernah bisa meraihnya. Masa lalu adalah masa lalu, dan saya akan melakukan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menempa keterampilan, bakat, kemampuan dan sikap saya.

9. ‘Saya tidak pandai menangani stres’

Kita semua bisa belajar untuk menangani stres dengan cara yang lebih baik dan efektif. Sesungguhnya, semakin banyak stres yang tangani dengan efektif, maka semakin itu menjadi kemampuan alami.

Semua kita dapat mempelajari cara baru dalam berpikir dan bersikap untuk membantu kita mengatasi stres, lalu membentuk ketahanan alami terhadap stres itu sendiri.

Pemikiran yang lebih baik:
Stres itu normal dan ‘sehat’ selama saya terus belajar untuk mengatasinya. Stres hadir untuk memberitahu apa yang sesungguhnya saya butuhkan, karena itu saya akan ‘mendengarkan’ stres saya, dan mencari cara sehat untuk mengatasi dan menanganinya.

10. ‘Apa yang orang lain pikirkan terhadap saya?’

Mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan mengenai diri kita, adalah bagian dari pengalaman hidup. Kita cenderung ingin agar orang lain menyukai dan ‘menyetujui’ apa yang kita lakukan.

Namun, kerap kali ini menjadi sebuah jebakan, karena boleh jadi kita akhirnya menyabotase kepentingan dan kesuksesan kita sendiri, karena kita khawatir ‘tampil’ buruk di pikiran orang lain.

Pemikiran yang lebih baik:
Orang lain akan lebih mengkhawatirkan diri mereka sendiri, dibandingkan ‘merecoki’ diri saya. Saya perlu fokus pada apa yang pikirkan dan apa yang saya lakukan. Saya akan mengikuti kata hati, meski jika orang lain tidak setuju terhadapnya. Saya akan hidup dengan segenap integritas.

Kesimpulan

Mulailah memberi perhatian terhadap pemikiran Anda sendiri. Kenali pemikiran-pemikiran yang membawa Anda kepada kegagalan, dan segera ganti dengan pemikiran yang positif dan membangun, untuk membantu Anda mengatasi kemunduran dan kegagalan. Dengan begitu jalan mencapai sukses lebih terbuka.

Sukses untuk kita semua.

Salam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here