Apa itu Latency dalam Audio Digital?

Kali ini saya akan membahas tentang latency. Dengan membaca artikel ini, diharapkan Anda akan paham:

1. Apa itu latency.
2. Mengerti perbedaan antara nilai latency yang berbeda-beda.
3. Bagaimana menangani latency pada studio rekaman digital.

Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, perlu kiranya saya sampaikan terlebih dahulu beberapa istilah yang berhubungan dengan masalah latency ini. Yaitu:

Drivers
Ini adalah software yang menghubungkan komunikasi antara perangkat keras (hardware) dan sistem operasi (operating system).

Printer, mouse, audio interface dan sebagainya, mereka butuh drivers agar dapat berkomunikasi dengan Windows 7, misalnya.

CPU (central processing unit)
Ini mengacu pada prosesor di dalam unit komputer Anda, bukan komputer itu sendiri. Misalnya, prosesor Intel Core i7 dan lainnya.

A/D Converter (Analog to Digital Converter)
Betugas mengambil sinyal analog elektris yang dihasilkan oleh input Anda dan merubahnya ke dalam bentuk digital yang dimengerti oleh komputer.

Kebalikan darinya adalah D/A Converter dan bertugas kebalikannya, yaitu merubah sinyal digital ke bentuk sinyal analog elektris untuk diteruskan ke monitor.

Hard Drive
Ruang penyimpanan pada komputer atau biasa disebut hard disk. Ada dua macam, pertama yang menggunakan sistem mekanis yang memiliki komponen bergerak. Kecepatan transfernya lebih rendah jika dibandingkan jenis solid state hard drive yang tidak memiliki komponen mekanis.

Buffers
Nilai buffers dinyatakan dalam samples, seperti 512, 256 dan 128, merujuk pada besarnya data yang digunakan pada satu pemrosesan tunggal (single processing batch).

Dengan kata lain:

  • Semakin besar nilainya, semakin stabil tapi lebih lambat audio Anda diproses.
  • Semakin kecil nilainya, kurang stabil tapi lebih cepat audio Anda diproses.

Software monitoring
Jika opsi ini dipilih, maka audio yang Anda dengar dari monitor telah diproses oleh komputer Anda, memungkinkan untuk menambahkan efek pada bahan mentah rekaman Anda.

Kelebihan: dapat ditambahkan efek digital.
Kekurangan: meningkatkan latency monitoring.

Direct monitoring
Memotong jalur pada sistem audio interface, mengirimkan sinyal audio langsung ke output monitor tanpa melewati software.

Kelebihan: menurunkan latency monitoring.
Kekurangan: tidak dapat menambahkan efek digital

Virtual instrument
Dapat berupa software synthesizer, bass pedal atau plugin (seperti AmpliTube atau Guitar Rig), yang semuanya disimulasikan oleh komputer.

Tergantung dari spesifikasi masing-masing, virtual instrument ini memakan banyak sekali sumber daya komputer Anda, terlebih ketika Anda ingin mendengarkan hasilnya secara real-time.

Oke, setelah semua penjelasan teknis tadi, apa sebenarnya latency itu?

Sederhananya, latency muncul jika sesuatu terjadi lebih lambat dari yang diharapkan. Hal ini juga biasa disebut dengan istilah lain, seperti lag, bottle-neck dan beberapa istilah populer lainnya.

Intinya, Anda mau suatu hal terjadi pada waktu tertentu, …. tapi ternyata terlambat. Sederhana bukan?

Sekarang, pada saat Anda merekam audio digital, sesungguhnya ia melewati rangkaian panjang sampai akhirnya sampai pada komputer Anda.

Untuk memudahkannya, berikut adalah gambaran prosesnya:

Sinyal audio >> Preamps >> A/D converter >> Komputer

Agar lebih gamblang, mari kita ambil contoh. Anggap Anda menyanyi menggunakan sebuah mic (gelombang suara yang merambat di udara ditangkap oleh mic dan menghasilkan sinyal elektris audio analog).

Sinyal analog tadi kemudian masuk ke preamps, yang memperbesar sinyal audio mic yang lemah tadi (ini terjadi pada audio interface).

Selanjutnya, sinyal yang telah diperkuat tadi masuk ke A/D converter (yang merubahnya menjadi sinyal digital. Proses ini juga terjadi pada audio interface).

Terakhir, sinyal digital dikirimkan ke komputer.

Ini adalah rangkaian perjalanan pertama dari sebuah sinyal audio dalam proses rekaman digital. Sebut saja proses sebagai ‘rangkaian masuk’. Dan hanya sebagai contoh, anggap saja proses ini membutuhkan waktu 50 ms (50 milidetik = 1/1000 detik).

Apa yang saya uraikan dengan tulisan di atas, akan lebih mudah dipahami dengan menggunakan gambar, untuk itu coba perhatikan gambar berikut:

Pada gambar di atas, garis hitam mewakili sinyal analog, sedangkan garis biru mewakili sinyal digital.

Terakhir, garis putus-putus adalah mewakili jalur langsung jika menggunakan direct monitoring, sementara garis tak putus menggambarkan software monitoring.

Sepertinya cukup pemahaman dasar tentang latency ini, mari kita bicarakan hal yang lebih spesifik

Kasus #1

Anda memutar track yang telah direkam sebelumnya, baik dalam proses mixing maupun hanya sekedar mendengar kembali take yang baru saja diambil.

Apakah Anda benar-benar peduli bahwa sebenarnya ia baru diputar 50ms setelah Anda menekan tombol play?

Tidak. Semua track diputar secara sync (sinkron) dengan track lainnya, sehingga dalam hal ini, latency tidak lah relevan.

Kesimpulan:
Ah, ternyata tidak masalah sama sekali memiliki latency jika saya melakukan mixing atau mendengarkan kembali, karena ia tidak mempengaruhi ritme dan timing seperti pada saat saya merekamnya…..

Kasus #2

Anda memutar ulang sebuah track DAN merekam lagi pada track lainnya. Bayangkan Anda menyanyi dengan iringan gitar yang telah direkam sebelumnya.

Pada kasus ini, Anda mendapati 50ms pada jalur masuk dan 50ms pada jalur keluar, jadi total Anda memiliki latency 100ms.

Wah… berarti saya harus menggeser semuanya sebanyak 100ms agar rekaman vokal saya sinkron dengan track gitar!

Ternyata tidak harus. Jika pun Anda melakukannya, saya yakin akan sangat sulit untuk angka 100ms! Untungnya, itu tidak perlu terjadi.

Kenapa? Karena software rekaman Anda menghitung delay ini dan ia tahu dimana harus menempatkan rekaman Anda pada posisinya yang tepat. Kita mesti berterima kasih kepada para pengembang software dalam hal ini.

Kesimpulan:
Sepertinya kita bisa mengandalkan software rekaman untuk menangani semuanya. Dan sepertinya, lagi-lagi saya tidak perlu khawatir dengan masalah latency ini.

Kasus #3

Anda merekam instrumen virtual (virtual instrument) atau menambahkan efek digital secara real-time…..

Wah… sepertinya ini baru masalah dengan latency. Bagaimana latency bisa membuat Anda pening kepala dalam hal ini?

Anggap saja Anda menghubungkan gitar langsung ke preamps (ke audio interface), tanpa menggunakan preamps terpisah. Anda ingin suara yang dihasilkan berkualitas terbaik, dengan begitu, tentu saja Anda menambahkan efek yang bernama:

EXELLENT OVERDRIVE GUITAR TAR TAr tar ….

(Efek ini menghasilkan echo yang tercermin dari namanya, hehehe…..)

Efek ini dipasang di komputer Anda, jadi sekarang delay waktu antara Anda memetik senar gitar dan suara yang Anda dengar dari monitor studio, benar-benar dapat membuat Anda frustasi memainkan nada pada gitar.

Kesimpulan:
Oke, saya sekarang mengerti. Delay pada saat rekaman benar-benar bisa mengacaukan performance yang saya lakukan.

Mengatur latency di studio Anda

Sekarang, setelah Anda memahami apa itu latency dan jenis-jenisnya, inilah 3 hal yang Anda bisa fokus untuk mengatasinya.

1. Hardware yang kurang bertenaga

Yang paling utama, Anda dapat meng-upgrade CPU dan hard drive. Dapatkan prosesor tercepat saat ini dan sebuah hardisk bertipe SSD (solid state drive) untuk menjalankan sistem operasi dan software rekaman Anda.

Ini bisa jadi akan menguras kantong Anda, tapi ini adalah investasi yang paling penting dalam membangun studio rekaman.

2. Driver usang

Menggunakan driver usang pada sistem operasi terbaru, dapat mengganggu komunikasi antara hardware dengan sistem operasi, yang pada akhirnya bisa memperbesar latency.

Lagi pula vendor biasanya selalu mengupdate driver mereka menjadi lebih baik, entah karena adanya bug, atau pun perbaikan yang lebih bagus.

Jadi, saya rekomendasikan untuk selalu menggunakan driver terbaru dari situs resmi hardware yang Anda gunakan.

3. Mengoptimalkan pengaturan

Ada parameter buffer yang dapat Anda atur pada software rekaman yang Anda pakai. Sebagai contoh, ini adalah tampilan pengaturan pada driver Alesis.

Antara satu aplikasi atau hardware mungkin berbeda, tapi pada prinsipnya sama saja. Biasanya terletak pada menu ‘options’ atau ‘preferences’.

Mulailah dengan nilai 512, lalu coba pula angka 384, 256 dan seterusnya. Setiap kali, cobalah memainkan instrumen dengan menerapkan efek di dalamnya.

Jika Anda mendengar suara ‘krotok’ atau pecah-pecah, ataupun aplikasi jadi crash, itu berarti Anda menyetel angka terlalu rendah.

Naikkan lagi, lalu coba kembali. Setiap sistem punya karakteristik berbeda, sehingga Anda perlu mencari setting yang paling sesuai bagi Anda.

Opsi lainnya?

Adakah opsi lain untuk mengatasi masalah latency ini?

Untuk memuaskan para penggunanya, vendor berlomba memberikan solusi dengan mengembangkan apa yang disebut dengan modul DSP (digital signal processing) sebagai bagian dari audio interface Anda.

Ia menyediakan bermacam efek populer (seperti compression, EQ dan reverb) yang ditambahkan pada audio interface secara langsung tanpa harus membebani CPU pada komputer.

Kekurangan tidak dapat memilih efek dengan bebas, hanya efek yang disediakan saja, tapi ini dibayar dengan latency yang rendah.

Itulah bahasan tentang latency. Dengan memahami proses dan dasar-dasarnya, diharapkan Anda bisa memilih dan mengatasi masalah ini dengan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here