Ilmu Fisika di Balik Musik Digital

Saya tahu, mungkin Anda sudah tidak sabar untuk segera membangun studio rekaman musik digital impian Anda.

Tapi sebelum Anda mulai merekam musik Anda sendiri, mungkin akan banyak bermanfaat jika memahami sedikit dasar-dasar dari fisika musik itu sendiri.

Karena banyak konsep yang dijelaskan di sini memerlukan satu pemahaman pengetahuan minimal tentang suara (musik) dari kacamata ilmu fisika.

Tenang saja, Anda tidak menemukan rumus-rumus fisika yang njlimet disini. Saya hanya akan menyampaikan konsep dasar fisika suara. Dan meskipun Anda mungkin telah mengetahui tentang konsep ini, saya harap Anda akan menemukan perspektif baru dalam hal fisika musik.

Mari kita lanjut dan mari kita mulai dengan pertanyaan mendasar:

Apa itu musik?


Rasanya tidak mungkin menjelaskan definisi musik secara penuh dalam kata-kata, tapi kita tetap bisa mengerti bagaimana musik itu terbentuk.

Ya, kita semua dapat dengan mudah memperdebatkan tentang musik ini ‘enak’ dan ‘tidak enak’, karena masing-masing punya seleranya sendiri-sendiri, tapi tentu kita semua setuju bahwa musik dibuat dari suara (sound). Suara vokal, suara gitar, suara perkusi, suara kolintang dan banyak lagi.

Terlepas dari alat musik yang digunakan untuk menghasilkan musik, tetap saja musik mengandalkan suara untuk mengantarkan pesan kepada pendengarnya.

Dan ini menggiring kita kepada pertanyaan berikutnya:

Apa itu suara?


Sebagai musisi tentu kita menaruh perhatian khusus terhadap suara. Lalu apa itu suara?

Secara fisika, pada tataran paling dasar, suara adalah suatu perbedaan tekanan pada suatu medium.

Hemm…… penjelasan yang sangat tidak berguna sekali!

Oke, saya coba dengan cara lain.

Gelombang tekanan tadi, yang mengantarkan suara-suara yang kita dengar sehari-hari disebut dengan sinyal suara (audio signal).

Intinya kita mesti memahami bagaimana suara merambat di udara.

Pada gambar atas, kita dapat melihat bahwa ada lebih banyak gelombang dibandingkan dengan gambar di bawah. Dengan begitu kita dapat menyebut bahwa gelombang di atas memiliki frekuensi lebih tinggi daripada yang di bawah.

Jika waktu yang dibutuhkan oleh kedua gambar tadi adalah sama, yaitu 1 detik, maka gelombang yang atas memiliki frekuensi sebesar 6 Hz (6 putaran untuk setiap detiknya), sementara yang bawah memiliki frekuensi 3 Hz (3 putaran setiap detiknya).

Gelombang yang atas memiliki frekuensi lebih tinggi, karenanya kita akan mendengar nada lebih tinggi dibandingkan dengan yang dibawah. Semakin tinggi frekuensi, maka nada suara semakin tinggi pula.

Namun kita tidak akan mendengar gelombang seperti di atas, karena manusia hanya bisa mendengar rentang frekuensi antara 20 Hz – 20.000 Hz.

Oke, saya tahu, penjelasan ini jika dilanjutkan akan memakan banyak sekali halaman, dan kita bukan sedang belajar ilmu fisika, kita ingin membuat musik! Betul? Jadi lupakan detil tentang teori fisika.

Dan saya berjanji ke depan tidak akan banyak menghadirkan angka-angka dan teori. Saya menyampaikan sedikit tentang hal ini juga karena saya anggap penting untuk mengantarkan kita pada apa yang dimaksud dengan Sample Rates.

Satu lagi yang akan sering kita akrabi nanti, yaitu Decibel atau biasa disingkat dengan dB. Ini adalah ukuran besaran level atau intensitas dari gelombang suara.

Ok, kita sudahi pelajaran fisikanya, dan kita sampai pada pertanyaan paling penting dari semua:

Lalu apa hubungan semua itu dengan studio rekaman musik digital?

Sekarang kita akan berbicara tentang UANG, jadi tolong simak baik-baik!

Semakin tinggi sample rate, semakin mahal pula sebuah ADCs dan DACs (Analog-to-Digital dan Digital-to-Analog converters). Komponen ini akan menentukan kualitas dari hasil rekaman Anda.

Tapi, kita bukan lah studio profesional. Jadi kiranya kita tidak perlu menguras habis tabungan untuk mendapat kualitas yang kita butuhkan. Karena pada akhirnya, Anda butuh kualitas sound yang sesuai untuk Anda, bukan hasil reproduksi sempurna secara teoritis.

Yang kita bangun adalah studio rekaman rumahan, dan seperti yang Anda lihat, Anda sama sekali tidak perlu mengeluarkan ratusan jutaan rupiah untuk membangunnya.

Dengan memahami dasar-dasar dari fisika musik ini, diharapkan Anda bisa memulai dengan dana yang masuk akal.

Tentu, seperti segala sesuatu apapun, langit adalah satu-satunya batasan. Tapi jika demikian, dimana letak kesenangan dari hobi kita ini?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here