Kisah si Mukmin dan Penyembah Setan

Pada suatu zaman telah dikisahkan ada seorang Nabi yang melintasi tepian samudra. Dalam perjalanannya dia menjumpai seorang mukmin yang taat beribadah kepada Allah. Tak lupa ketika menebarkan jaringnya dia sebut nama Allah. Akan tetapi dia tidak mendapati satu ekor pun ikan yang tersangkut di dalam jaringnya.

Kemudian Nabi ini pun meneruskan perjalanannya dan dia menemui seorang yang menyembah kepada setan. Dia pun melakukan hal yang sama sebelum dia melemparkan jaringnya. Dia mengucapkan nama setan yang dipujanya. Dan ketika jaring itu diangkat, dengan seketika banyak sekali ikan yang tersangkut di dalam jaringnya.

Nabi ini pun merasa keheranan dan mengadukan perihal ini kepada Allah. “Kenapa dua peristiwa ini begitu aneh dan aku yakin semua ini tidak luput dari pengawasan-Mu ya Allah”, ucap Nabi tersebut.

Dengan segera Allah mengutus malaikat yang menyingkap rahasia di balik peristiwa tersebut.

Betapa terkejutnya Nabi ini karena melihat berbagai macam pahala yang begitu luar biasa yang dilihatnya kepada si mukmin dan siksa yang teramat pedih kepada sang pemuja setan tadi.

Nabi itu pun tersadar hingga akhirnya tenteramlah hatinya dengan kekaguman yang masih menyelimuti dalam jiwanya akan rahasia pahala yang diberikan Allah kepada orang-orang yang Mukmin.

Kisah ini seakan masih terjadi sampai saat ini dan masih banyak orang yang terkadang terheran-heran dengan kejadian ini. Pada suatu peristiwa terkadang kita melihat orang yang begitu taat mengalami nasib yang kurang menguntungkan sedangkan orang yang kurang taat bahkan penuh dengan kubangan maksiat, seakan dimudahkan segala urusan duniawinya, sehingga dengan mudah dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.

Dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah bahwa terkadang orang yang penuh dengan cobaan adalah orang yang disayangi Allah. Dan terkadang orang yang penuh dengan kemudahan bisa jadi sedang dibiarkan oleh Allah di dunia ini namun terancam siksa pedih di akhirat nanti.

Dari kisah ini pula, kita bisa mengambil hikmah lain yaitu kita harus tetap bersabar dengan cobaan dan keadaan hidup yang seringkali tidak menyenangkan dan kita harus segera kembali bertaubat, jika segala urusan kita (terutama urusan maksiat) begitu dimudahkan oleh Allah, karena bisa jadi ini dikarenakan kita jauh dari Allah.

Oleh sebab itu kita harus jeli dengan setiap keadaan. Jangan sampai kita menjadi manusia yang  hidup dengan penuh kemaksiatan namun kita tidak menyadarinya. Dua cobaan inilah yang harus kita waspadai yaitu cobaan musibah kesengsaraan dan cobaan kesenangan dan keindahan.