3 Budaya Santri yang Belum Banyak Diketahui

Santri merupakan sebutan bagi pelajar yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren. Sementara itu pondok pesantren pada zaman Nabi lebih dikenal dengan istilah kutab atau majelis ilmu.

Pondok pesantren di Indonesia berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat seorang pendidik yang bergelar kyai. Kyai dibantu oleh ustadz-ustadz yang bertugas mendidik dan mengajari santri dengan sarana masjid dan fasilitas pemondokan atau asrama.

Sistem pendidikan yang paling menonjol di pondok pesantren adalah sistem sorogan dan bandungan. Sistem sorogan adalah sistem pengajaran yang menekankan kepada penguasaan materi dan pemahaman dari kitab atau bahan ajar yang sedang diajarkan. Dengan sistem sorogan ini santri maju satu persatu kepada sang guru untuk menerangkan tingkat pemahaman yang telah dikuasainya pada salah satu materi dan guru menjelaskan dan meluruskan pemahaman dari santri jika ada kekeliruan.

Sistem lainnya adalah sistem bandungan atau sistem holaqoh. Jika di dunia modern sering dikenal dengan sistem kelas. Dengan sistem ini terjadi pengajaran yang bersifat kolekif atau kelompok di mana santri duduk melingkar mengelilingi sang kyai atau ustadz yang sedang menyampaikan materi.

Pondok pesantren memang bukan hal yang baru di Indonesia bahkan sangat familiar sekali di telinga kita. Namun begitu, masih banyak budaya pesantren yang belum kita ketahui. Adapun budaya pesantren yang belum banyak diketahui orang antara lain.

1. Budaya Kebersamaan

Kebersamaan ini tidak akan anda temui di sistem pendidikan mana pun. Karena sistem ini adalah budaya yang hanya mashur di kalangan pesantren. Di pesantren, misalnya, dikenal adanya budaya makan bersama. Hal yang membedakan dengan kebiasaan makan pada umumnya adalah makan bersama dalam satu nampan. Satu nampan dimakan bersama oleh empat orang. Dengan demikian rasa kebersamaan dan kekeluargaan para santri akan semakin dekat. Hal seperti ini akan bisa anda temukan di Pekalongan khususnya pada acara-acara keagaamaan.

2. Panggilan Abah pada Sang Kyai

Abah bukan hanya sebagai  panggilan saja, akan tetapi dalam sistem pendidikan pondok pesantren abah adalah sosok ayah bagi para santrinya, sehingga pondok pesantren melakukan pendidikan dengan sistem kekeluargaan.

Seorang kyai dengan tanpa pamrih akan mengajar para santri seperti mengajar anaknya sendiri. Di dalam dunia pesantren sosok abah adalah panutan dan teladan bagi para santri. Bahkan kecintaan santri kepada abah atau gurunya melebihi kecintaan murid kepada guru di mana pun dan dalam sistem pendidikan lainnya.

Dari sini lah nilai moral diajarkan. Mulai dari sopan santun dan ilmu keagamaan. semuanya diajarkan berdasarkan kasih sayang antara ayah dengan anaknya.  Jadi jika anda melihat para santri, mereka akan sangat taat kepada nasehat abah mereka.

3. Para Santri Diajarkan Kemandirian

Dalam dunia pesantren sosok kyai adalah ayah bagi para santri. Dan di pesantren sebenarnya bukan hanya belajar ilmu agama. Bahkan jika anda memilih pesantren tradisional anda akan menemukan hal yang sangat bermanfaat bagi anda untuk bekal hidup di masyarakat.

Di dunia pesantren semuanya berbagi sesuai dengan tugas yang diberikan. jika santriwati bertugas memasak di dapur maka santri putra bertani di kebun milik pesantren. Hasil pertanian digunakan untuk makan para santri. Bahkan biaya untuk mencari ilmu di pendidikan pesantren tradisional adalah gratis. bahkan ustadz yang mengajar pun tidak mengharapkan bayaran materi. Semua tulus ikhlas untuk menghidupi pondok pesantren.

Namun, saat ini pondok pesantren bertransformasi dengan mendirikan sekolah formal di dalamnya. Banyak hal positif yang bisa anda dapatkan di pondok pesantren yang tidak akan anda temukan di sekolah formal.