Aku dan Gadget Barumu

Kukira kau siapa. Berjalan dengan kepala menunduk dan senyum lebar melangkahkan kaki lewat hadapanku. Tak menegur, tak menyapa. Seakan tak terlihat aku, sosok yang kemarin selalu menemani menikmati kudapan nikmatnya kopi hitam seribu perak, sosok yang menemani canda tawa gilamu.

Aku tak tahu apa yang sedang dilihat di genggamannya. Seberkas sinar terlihat menyinari wajahnya di kegelapan. Seperti sebuah gadget. Namun, tangan kekarnya tak terlihat menggerakkan jari. Dia memandangi terus seakan ada notifikasi penting muncul di dalam layar terang gadgetnya.

Singkat cerita, keesokan harinya, Dia mengetuk pintu rumahku. Kulihat Dia tersenyum lebar sambil menunjukkan gadget baru yang katanya adalah hasil jerih payahnya menjadi karyawan toko selama tiga bulan. Duduk di kursi tamu. Dua jam berlalu Aku merasa seperti bocah yang sedang kesepian. Tak ada obrolan, tak ada canda tawa, tak ada permintaan secangkir kopi sedikitpun yang muncul dari mulutnya. Dia lebih memilih asyik mementingkan gadget barunya. Seakan-akan bila tidak memegang gadget hidupnya akan tidak seasyik dahulu.

Gadget memang sudah mengubah dunia. Kini orang-orang mampu membagikan foto selfienya di sosial media. Mampu dengan mudah bertukar pesan, membaca berita, menonton acara konyol, dan bermain game dengan hanya bermodalkan satu batang gadget. Bahkan banyak orang di luar sana yang mengantongi hingga dua atau tidak gadget. Tak hanya itu, jenis gadget, besar kecil gadget, mahal murahnya gadget yang kebanyakan tak memperdulikan fungsinya seolah-olah menjadi simbol kelas menengah atas.

Aku rindu. Rindu dengan permainan masa kecil bersama temanku. Tak ada lagi permainan dalam bentuk nyata yang Aku lakukan bersama temanku setelah gadget merubah hidup. Monopoli, kejar-kejaran, petak umpet, gitar, drum, semua sudah gampang dilakukan dengan gadget. Tak perlu keluar rumah menghitamkan kulit tubuh, menahan dinginnya malam hanya untuk bermain petak umpet.

Aku rindu. Rindu dengan diskusi gila di pinggir jalan, ditemani kopi hitam seribu perak, saling bertukar isi kepala tentang percintaan, kehidupan, obrolan seputar politik yang keluar langsung dari mulut teman tanpa perlu repot-repot mengetik. Rindu berdiskusi gila tanpa harus diganggu aneka macam pemberitahuan dari gadget.

Aku iri. Iri dengan mereka yang memiliki konsentrasi sangat tinggi memegang gadget. Walaupun banyak yang Aku lihat mereka sering tersandung batu besar, terjatuh ke jalan berlubang yang tak mereka lihat karena asyik melihat gadget.

Aku iri. Iri dengan mereka yang memiliki reflek yang sangat tinggi. Mampu dengan cepat membuka notifikasi dari gadget pintar mereka. Reflek yang begitu tinggi melebihi reflek mendengar suara dari Toa masjid. Reflek yang lebih tinggi dari suara panggilan ibunya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here