Kisah Seorang yang Menguji Kebijaksanaan Allah SWT

Dahulu kala, ada seorang zuhud yang mengasingkan dirinya dari keramaian kota. Dia berdiam diri di kaki bukit tanpa membawa bekal makanan sedikit pun. Setelah tujuh hari lamanya ia berdiam diri tanpa bekal makanan dan minuman. Akhirnya dia pun berkata, “Aku sekali-kali tidak akan meminta kepada seorang pun, aku akan menguji Allah bagaimana Dia mendatangkan rezeki kepadaku”.

Namun ternyata dalam jangka waktu tujuh hari tersebut tidak ada seorang pun yang membawa makanan kepadanya. Maka dia pun berdoa: “Ya Allah, jika masih Engkau beri aku umur pastinya Engkau memberikan rizki kepadaku. Namun jika bagianku telah habis maka cabutlah ruhku agar aku keluar dari penderitaan ini.”

Allah pun segera memberikan ilham kepada orang tersebut “Aku tidak akan mengucurkan rezeki kepadamu, selagi kau tidak mau segera kembali ke kota dan meminta bantuan kepada orang lain.”

Maka dengan langkah gontai dan lemas laki-laki itu pun kembali ke kota dan berusaha mendapatkan makanan. Dan alangkah bahagianya laki-laki itu, karena orang-orang segera berdatangan membawakan makanan dan minuman kepadanya. Namun hatinya belum merasa puas, dan masih terus bertanya-tanya tentang perlakuan Allah terhadap dirinya. Kemudian pemuda tersebut mendapatkan ilham.

“Kau menghendaki untuk menghapus segala kebijaksanaan-Ku yang Aku jalankan di dunia ini. Adakah kau belum mengerti bahwa rezekimu yang Aku sampaikan melalui tangan orang lain adalah lebih Aku sukai daripada langsung jatuh dari langit melalui kekuasaan-Ku.”

Kisah ini seakan menjadi cambuk bagi kita. Kita sering mengharapkan suatu keajaiban-keajaiban di dunia ini. Menginginkan sesuatu secara instan dan mudah. Padahal Allah telah menetapkan sunatullah atau hukum sebab akibat di dunia ini.

Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum ia mau merubah nasibnya sendiri?

Ini adalah motivasi dari Allah yang menyuruh kita untuk mau berusaha dan berikhtiar dalam mencapai sesuatu. Sudah banyak kisah keajaiban yang ada di dunia, namun bukan sesuatu yang datang secara seketika dengan tiba-tiba. Semuanya melalui proses dan terjadi dengan perantara orang yang terkadang tidak kita kenal sebelumnya. Tapi kebanyakan dari kita tidak sadar dan hanya menganggapnya sebagai kebetulan belaka.

Di dunia ini tidak ada istilah kebetulan karena setiap kejadian bahkan daun yang jatuh dari pohonnya sekali pun, memiliki ketetapan dari Allah.

Allah telah menetapkan dua takdir yaitu takdir mubram atau yang sudah pasti seperti halnya kematian kita. Kita tidak akan pernah tahu kapan kita mati dan di mana kita akan mati.

Namun selain takdir ini Allah juga memberikan takdir yang masih digantungkan atau takdir mu’allaq. Takdir inilah yang masih bisa kita usahakan seperti halnya. Kekayaan, kecerdasan, atau kesehatan adalah beberapa yang termasuk di dalamnya. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan mengharap keajaiban, namun kita harus bergerak untuk menjemput takdir tersebut.

Untuk menjadi pandai kita harus belajar, untuk menjadi kaya kita harus bekerja, berusaha, menabung dan lain sebagainya.

Sebagai gambaran, jika anda menginginkan segelas susu maka ambillah susu yang telah Allah sediakan di meja. Sekarang tinggal anda mau mengambil susu tersebut atau hanya duduk di kursi dan hanya berdiam diri. Padahal susu tersebut sudah jelas ada di depan mata anda.

Kisah ini sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh hanya pasrah dan duduk sambil berpangku tangan.