Cara Menghadapi dan Mengatasi Kesulitan

Pernahkah Anda merasa menghadapi masalah datang silih-berganti yang tampak tak berujung?

Apakah Anda merasa bahwa setiap kali Anda maju satu langkah, ‘keadaan sulit’ memaksa Anda mundur dua langkah lagi ke belakang?Jika ya, Anda tidak sendirian. Sebagian besar orang mengalami hal semacam itu.

Para bijak mengatakan: rasa sakit adalah hal yang tak terelakkan, namun penderitaan, itu adalah pilihan! Anda bisa menentukan seberapa besar Anda ‘merasa menderita’ akibat rasa sakit yang menimpa.

Dan inilah beberapa cara berpikir yang dapat membantu Anda merubah kesulitan dan penderitaan hidup menjadi sebuah pengalaman positif.

Kesulitan adalah gejala, bukan sebab

Seringkali, kesulitan adalah merupakan suatu tanda atau gejala dari adanya masalah yang lebih besar.

Anda baru saja kehilangan pekerjaan, dan berpikir bahwa itu adalah satu hal yang sangat benar-benar ‘menghancurkan’ impian karir yang Anda impikan. Namun, apakah Anda berusaha mencari tahu mengapa Anda kehilangan pekerjaan? Apa yang membuat Anda menjadi orang yang ‘terbuang’? Apakah pekerjaan itu adalah karir yang tepat bagi Anda?

Sama halnya, seperti misalnya Anda atau orang yang Anda cintai mengalami sakit. Apakah Anda tahu apa penyebabnya mengapa Anda sakit? Apakah itu karena pola hidup yang kurang baik? Apakah diakibatkan oleh lingkungan kerja yang tidak sehat? Atau hanya semata karena perilaku buruk?

Sama seperti halnya rasa sakit secara fisik yang merupakan gejala atau tanda dari adanya penyakit tertentu, kesulitan dan penderitaan adalah tanda atau gejala adanya problem lain dalam hidup Anda.

Meskipun prioritas Anda adalah segera mencari penyelesaian atau mengatasi situasi saat ini, Anda harus pula memberi perhatian terhadap sumber penyebabnya. Karena jika tidak, Anda akan terus mengalami situasi yang sama lagi dan lagi.

Kesulitan adalah pelajaran

Kesibukan seringkali membuat kita tidak bisa berhenti rehat sejenak dan memahami orang-orang terdekat di sekeliling kita. Kesulitan dan penderitaan hidup, acap membuat kita tersentak bangun untuk menyadari hal-hal paling berharga dalam hidup yang sesungguhnya: kesehatan kita, keluarga, sahabat.

Kesulitan keuangan yang datang tiba-tiba, mengajari bahwa kita tidak semestinya menggantungkan kebahagiaan semata kepada yang namanya uang.

Penyakit yang menimpa, mengajarkan kepada kita untuk rendah hati dan membimbing kita kepada gaya hidup yang lebih sehat.

Kehilangan anggota keluarga, membuat kita lebih memahami tentang hidup: kita lahir, kita hidup lalu kita semua akan mati.

Contoh tadi mungkin terlalu terlalu naif, tapi Anda harus mau belajar dari kesulitan yang menimpa bila tidak ingin kesulitan itu yang mengontrol kehidupan Anda.

Kesulitan adalah petunjuk

Terkadang, kesulitan menghampiri Anda untuk memberi petunjuk agar Anda merubah haluan. Seperti contoh, bila ‘seseorang’ meninggalkan Anda, Anda tidak perlu untuk mendongkol atau menyalahkan diri sendiri.

Sebagai gantinya, Anda harus menganggap itu pertanda bahwa akan datang satu hubungan yang lebih baik, lebih membangun di masa yang akan datang.

Saat kesulitan datang, Anda juga lalu bisa memanfaatkan momen itu untuk melakukan satu kegiatan baru, kegiatan yang mungkin jauh baik memberikan kebahagiaan.

‘Saya selalu mengeluh tidak memiliki sepatu, sampai saya bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki kaki’, Confusius berkata, dan itu memang sangatlah benar.

Daripada kita meratapi dan diam terjebak dalam masalah-masalah yang kita hadapi, mengapa kita tidak mengalihkan pandangan kepada mereka yang bertahan (dalam kesulitan) dengan bahagia, bahkan mampu hidup sedemikian rupa meskipun dengan segala kekurangan dan kesulitan yang mereka miliki?

Jika Anda membuka mata dan melihat dunia yang lebih besar, Anda akan bahagia, betapa hebatnya ‘hidup dan kehidupan’ membentuk dan memberi Anda pelajaran berharga.

Salam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here