Juz 7: Isi, Tema, Waktu Diturunkan dan Ayat-ayat Pilihan

Apa yang dimaksud dengan “juz” dalam Qur’an?

Yang utama, Qur’an terbagi menjadi bagian-bagian surat dan ayat. Tapi sebagai tambahan, Qur’an pun dibagi menjadi 30 bagian sama panjang, disebut dengan Juz. Pembagian juz ini bertujuan memudahkan dalam membaca Qur’an dalam waktu satu bulan. Terlebih pada saat bulan Ramadhan, di mana sangat dianjurkan untuk menuntaskan membaca Qur’an paling tidak satu kali khatam (membaca seluruh isi Al-Qur’an dari awal sampai akhir).

Surat dan ayat yang terkandung dalam juz 7

Juz ke-7 Al-Qur’an terdiri dari dua surat, yaitu bagian akhir Surat Al-Maidah (dari ayat 82) dan awal surat Al-An’am (sampai ayat 110).

Kapan surat dan ayat dalam juz 7 diturunkan?

Menyambung dari juz 6 sebelumnya, yaitu Surat Al-Maidah, sebagian besar diturunkan di tahun-tahun awal sejak hijrah ke Madinah, ketika Nabi Muhammad SAW, mulai menata kehidupan sosial politik bersama-sama dengan kelompok lain yakni Yahudi dan Nasrani serta suku-suku nomaden sekitar Madinah.

Sedangkan surat kedua di juz ini, yaitu surat Al-An’am, diturunkan di Mekah sebelum hijrah ke Madinah. Meskipun surat ini diturunkan lebih dulu dari surat sebelumnya, argumen logis dari susunannya tetap mengalir sempurna. Setelah diskusi tentang wahyu yang diturunkan di masa lampau dan hubungan Islam dengan orang-orang ahli kitab, di sini pembahasan kembali ke paganisme dan penolakan terhadap tauhid atau keesaan Tuhan.

Ayat-ayat pilihan di juz 7 Qur’an

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. 5:87)

Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri [kepada Allah], dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. 6:14)

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. 6:48-49)

[Yang memiliki sifat-sifat yang] demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:102-103)

Tema utama juz 7 Al-Qur’an

Lanjutan dari Surat Al-Maidah berlanjut dengan tema yang sama, yaitu penjelasan lebih detil mengenai hukum makanan, perkawinan dan hukuman pidana. Lebih lanjut, Muslim diperintahkan untuk tidak melanggar sumpah, menjauhi minuman keras, judi, ilmu sihir, takhayul serta berburu di tanah suci atau selama menjalankan ibadah haji.

Muslim juga dianjutkan Allah untuk menuliskan surat wasiat yang disaksikan oleh orang yang terpercaya dan jujur. Orang beriman juga mesti berusaha menghindari hal-hal yang berlebihan atau melampaui batas, seperti membuat hal-hal yang halal menjadi haram. Orang beriman diingatkan sekali lagi untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian, permulaan surat Al-An’am berbicara tentang ciptaan Allah SWT serta tentang begitu banyaknya tanda dan bukti tentang karya Allah bagi orang-orang yang membuka pikirannya.

Begitu banyaknya generasi pendahulu menolak kebenaran yang dibawa oleh nabi-nabi mereka, meski terdapat bukti nyata dari ciptaan-ciptaan Allah. Salah satunya adalah Nabi Ibrahim, seorang Nabi yang mencoba meluruskan kaum yang menyembah Tuhan yang salah. Nabi-nabi yang datang sesudahnya juga menyampaikan ajaran yang sama.

Mereka yang menolak untuk beriman, sesungguhnya telah menolak kebenaran dalam jiwa mereka sendiri, dan akan mendapatkan hukuman karena keingkaran mereka itu. Orang-orang yang ingkar (kafir) mengatakan bahwa “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”. (QS. 6:25)

Mereka meminta bukti dan tetap dengan keingkarannya bahwa kelak akan ada hari pembalasan. Ketika saat itu tiba, mereka menghiba untuk diberikan kesempatan kedua, sayangnya mereka tidak akan mendapatkannya.

Ibrahim a.s, dan rasul-rasul lainnya, menyampaikan ajaran yang sama, yaitu menyeru orang-orang untuk beriman dan meninggalkan Tuhan-tuhan palsu mereka. Lebih dari 18 nabi disebutkan di ayat 83-87 surat Al-An’am. Beberapa memilih untuk percaya, lainnya memilih untuk menolak kebenaran.

Selanjutnya juz ini berlanjut dengan peringatan tentang karunia Allah di alam: matahari, bulan, bintang, hujan, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan sebagainya. Bahkan binatang (6:38) dan tumbuhan (6:59) mengikuti hukum alam yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Karena itu: siapakah kita hingga berlaku sombong dan menolak keimanan kepada Allah?

Selanjutnya, meski sulit, orang beriman diminta untuk menghadapi penolakan orang-orang kafir dengan kesabaran dan tidak perlu bersedih hati (6:33-34). Muslim dinasihati untuk tidak duduk (berbantahan) bersama mereka yang mengolok-olok dan mempertanyakan keimanan, namun cukup berpaling dari mereka dan memberi nasihat. Dan pada akhirnya, setiap orang akan bertanggung jawab terhadap apa-apa yang mereka lakukan sendiri, dan pasti mereka akan menghadapi pengadilan Tuhan.

Bukan tugas kita untuk mengawasi tindakan mereka, tidak pula menjadi pemelihara mereka (6:107). Bahkan orang-orang Islam dilarang untuk memaki sesembahan mereka (orang kafir) agar mereka tidak membalas mencaci Allah karena ketidaktahuan mereka (6:108). Orang beriman hanya dianjurkan untuk meninggalkan dan membiarkan mereka apa adanya, dan yakin bahwa Allah akan mengadili mereka seadil-adilnya.