Fakta Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Hai, dear. Berbicara tentang fakta cinta, tentu sangat menarik dong ya. Nah, kamu percaya dengan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Sebagian orang beranggapan, bahwa jatuh cinta bisa terjadi pada saat pertama kali bertemu dengan lawan jenis yang menarik.

Bagi kita hal itu adalah kebohongan. Why? Ilmuwan dari University of Nottingham, Inggris, berpendapat bahwa jatuh cinta itu nggak akan muncul begitu saja disaat baru pertama kali bertemu dengan orang baru.

Pada faktanya, ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk menemukan jatuh cinta pada pandangan pertama, yakni pendekatan, komunikasi, hingga akhirnya rasa cinta itu muncul dan tumbuh dengan sendirinya.

Sedangkan adanya perasaan kuat dan romantis yang muncul pada pandangan atau pertemuan pertama dengan seseorang seringkali hanyalah sisa-sisa imajinasi kamu saja dan sisa kenangan dari hubungan kamu sebelumnya.

Kamu masih menolak dengan anggapan ilmuwan tersebut? Ok. Salah satu anggota tim peneliti tim, Dr. Donna Jo Bridge, mengatakan bahwa saat seseorang bertemu dengan orang lain yang memiliki kesempatan untuk menjadi pasangannya, secara normal akan mengalami suatu euforia, dimana yang merefleksikan hubungan percintaan sebelumnya. Perasaan cinta memang muncul, namun cenderung pada saat euforia gembira, bukannya jatuh cinta.

Dalam kalimat lain, love at first sight hanyalah imajinasi belaka. Kebanyakan dari mereka yang mempercayai akan hal ini, kemungkinan sudah terpengaruh oleh film-film romantis yang sering memperlihatkan adegan itu. Contohnya? Scene dimana seorang pria dan seorang wanita jatuh cinta pada pandangan pertama (love at first sight).

Nah. Bagi kamu yang nggak percaya dengan cinta pada pandangan pertama akan setuju dengan pendapat dan fakta cinta yang telah diungkapkan oleh ilmuwan tadi. Lalu, bagaimana dengan orang yang masih mempercayai kalimat “cinta pada pandangan pertama”? Apakah pemikiran kamu akan berubah setelah membaca artikel ini?

Ok. Kita nggak bisa memastikan. Karena pada dasarnya, keyakinan atau kepercayaan itu milik masing-masing, tidak bisa saling memaksakan kehendak. Punya pendapat sendiri?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here